Pentingnya ‘Security of Supply’ Migas

Seorang pejabat tinggi di lingkup institusi minyak dan gas terkenal berceloteh ringan.
Persoalan di dunia minyak dan gas dari tahun ke tahun, waktu ke waktu, itu saja. Lifting,
produksi, EOR, eksplorasi selalu menjadi topik bahasan. Ditambah lagi issue dari tahun
ke tahun yakni impor migas.

Di sisi lain key performa indicator (KPI) institusi migas diukur dari kesuksesan menahan laju
penurunan produksi, dan menambah jumlah cadangan. Namun secara fakta, konsumsi BBM
nasional terus melonjak dari tahun ke tahun.

Sementara, produksi kilang-kilang milik Pertamina tidak mampu untuk mencukupi
kebutuhan BBM dalam negeri. Maka, salah satu jalan keluarnya adalah impor BBM. Namun,
yang mengejutkan banyak orang adanya statement Presiden Jokowi pada Oktober 2019.
Di mana, orang nomor satu Indonesia itu memerintahkan para menteri ekonominya untuk
menghentikan impor BBM dan segera menggantinya dengan energi alternatif, salah satunya
solar 30 pesen atau B30.

Alasan Presiden Jokowi sangat realistis, yaitu dengan cara menghentikan ketergantungan
impor BBM dapat menekan defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan. Tak
pelak, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
segera membuat terobosan untuk menekan defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi
berjalan. Salah satu caranya, dengan mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang
impor khususnya BBM.

Ketika Indonesia mengklaim akan mengurangi impor minyak dan gas, itu berarti perlu
adanya kesiapan cadangan migas untuk menutupi kebutuhan domestik, dalam negeri sendiri.
Di sinilah pentingnya peranan keamanan pasokan (security of supply) dalam mengatasi
kebutuhan akan minyak dan gas.

Salah satu profesor di sebuah institut terkenal di negeri ini, bercerita kelemahan
mendasar negeri ini adalah tidak adanya security of supply. Akibatnya, ketika cadangan migas
berkurang, maka yang ditonjolkan ke depan adalah opsi impor migas. Kenapa Indonesia tidak
pernah belajar dari Amerika Serikat pasca alami blackout 1978.
Amerika Serikat pernah beberapa kali mengalami blackout. Di kota New York saja,
tercatat pernah mengalami blackout selama tiga kali, yakni 13 Juli 1977, 14 Agustus 2003, dan
14 Juli 2019

Muasal terjadinya black out di negeri Uncle Sam itu diduga akibat tidak dikirimnya supply
(impor) bahan bakar minyak oleh Arab Saudi. Ini terjadi karena negara itu boikot produksi
migas, tidak boleh dikirim ke Amerika Serikat. Gara-gara boikot ini, Amerika gulita.
Belajar dari pengalaman blackout, Amerika Serikat banting setir ubah kebijakan cadangan
migas mereka. Kalau selama ini mereka mengedepankan impor migas dari Arab Saudi,
pasca kejadian 1978, Amerika mulai memikirkan security of supply migas. Apa artinya? Di sini
Amerika menaruh investasi di negeri kaya akan migas. Dengan harapan minyak dan gas yang
menjadi bagian Amerika Serikat bisa disedot, dibawa pulang ke negeri sendiri.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeri yang memiliki cadangan migas sekitar 3 miliar
barel. Artinya negeri ini potensi migas masih cukup besar, 0.2 persen dari jumlah cadangan
dunia. Ini artinya, negeri Indonesia kaya akan minyak dan gas. Apa salahnya dari 3 miliar
cadangan itu dialokasikan untuk disimpan di dalam negeri. Dalam catatan PORTONEWS,
pernah diadakan kerjasama antara PT Pertamina dengan PT Adaro Energy Tbk dimana
mereka kerjasama optimalkan cadangan minyak nasional. Acara penandatangan dilakukan di
Kementerian ESDM 13 Me 2015 lalu.

Jika ada kerjasama sejenis digagas di negeri ini, maka niscaya security of supply minyak
dan gas terjamin. Indonesia bisa mengurangi impor migas.

Godang Sitompul

    

ADVERTISEMENT
Translate »