Nihilnya Kepemimpinan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 telah berlangsung kurang lebih 1,5 tahun di Tanah Air, tetapi hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Per Selasa, 27 Juli 2021, Indonesia mencatatkan tambahan kasus Covid-19 baru sebanyak 28.228 orang. Sedang yang meninggal dunia berjumlah 1.487 orang.

Untuk tingkat global, kasus Covid-19 mencapai mencapai 195.335.842 jiwa. Pasien meninggal mencapai 4.182.682 jiwa. Sementara itu, sebanyak 177.172.906 orang dinyatakan sembuh dari Covid-19, dan menyisakan 13.980.254 kasus aktif. Hal ini berdasarkan data Worldometers per Selasa, 27 Juli 2021.

Tidak dinafikan, upaya pemerintah untuk menekan penyebarluasan dan angka penularan Covid-19 tengah dilakukan. Dengan beragam peraturan, kebijakan yang berubah-ubah, dan minimnya edukasi.

Saking banyaknya kebijakan yang dikeluarkan, nama kebijakannya pun berubah-ubah. Contohnya, pada 1 Juli 2021 Presiden Jokowi mengumumkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali, yang berlaku pada 3 -20 Juli 2021. Pada 20 Juli 2021 Presiden mengumumkan perpanjangan PPKM Darurat diperpanjang hingga 25 Juli, yang kemudian diperpanjang hingga 2 Agustus 2021.

Namun belum genap sebulan, PPKM Darurat diubah namanya menjadi PPKM Level 4. Selain PPKM level 1, 2 dan 3. Sebelumnya, pemerintah juga menerbitkan kebijakan yang disebut PPKM skala mikro dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Proses gonta ganti nama kebijakan ini menggambarkan kegamangan. Betapa pemerintah belum secara komprehensif dapat merumuskan kebijakannya sendiri secara tepat dan ajeg.

Belum lagi alur komunikasi dan pihak yang berkompeten memberi keterangan tentang penanganan Covid-19. Kementerian dan lembaga yang tidak berkaitan dengan penanganan Covid-19 justru terkesan paling dominan mengeluarkan dan mengumumkan kebijakan penanganan Covid-19. Sementara lembaga/kementerian yang berkompeten menangani pandemi justru pasif.

Ini semua menggambarkan tidak berfungsi dan tidak berdayanya elit tertinggi negeri ini. Entah karena ketidakmampuannya atau karena aspek lainnya. Padahal kepemimpinan yang berani, kokoh, tangguh, kuat dan berwawasan luas sangat dibutuhkan di masa pandemi. 

Edisi Terakhir Portonews

LEBIH MUDAH DENGAN APLIKASI PORTONEWS :

Translate »