Menyulap Panas Bumi Jadi Berkah

Letak geografis Indonesia yang berada di kawasan ring of fire (cincin api) dunia karena banyaknya gunung api, selain menjadikan wilayahnya rawan bencana tetapi juga memberikan berkah. Berkah tersedianya energi panas bumi (geothermal) yang melimpah.

Disebut melimpah karena potensinya yang besar, sekitar 23,9 Giga Watt (GW). Walaupun demikian, harta karun panas bumi ini belum dimaksimalkan pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan energi pembangkitan dan kegiatan lain seperti untuk sarana pariwisata, pemanasan hasil kebun dan pembibitan jamur, pembuatan pupuk serta budidaya ikan. Energi ramah lingkungan ini baru dimanfaatkan sekitar 8,9 persen atau 2.130,6 MW.

Sebagai pihak yang memiliki otoritas pengaturan, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan beragam regulasi. Mulai dari Undang-undang (UU) dan Peraturan Menteri (Permen). Undang-Undang No.21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, yang merupakan penyempurnaan dari Undang-Undang No. 27 Tahun 2003.

Walaupun demikian, regulasi tersebut dirasa belum dirasakan cukup untuk menggalakkan pengembangan energi panas bumi. Saat ini pelaku industri panas bumi menantikan terbitnya Peraturan Presiden Energi Baru Terbarukan (Perpres EBT). Perpres ini sedianya diluncurkan pada akhir Agustus 2020 tetapi hingga saat ini belum juga diteken Presiden Joko Widodo.

Terbitnya Perpres EBT bukan saja ditunggu tetapi diharapkan dapat menuntaskan persoalan panas bumi sekaligus mendongkrak pengembangan EBT. Sebab pengembangan EBT sudah dipatok dan ditargetkan pemerintah sebesar 23 persen sebagai bauran energi yang harus dicapai pada tahun 2025. Hal ini termaktub dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Capaian bauran EBT hingga tahun ini mencapai 9,15 persen.

Diantara semua jenis EBT (hydro, surya, biomass, angin dan ombak) energi panas bumi dianggap yang paling bisa diandalkan dan handal. Sebab ia memiliki reliability dan availability sangat tinggi.

Oleh sebab itu, menjadi keniscayaan bagi pemerintah untuk terus mensupport pengembangan panas bumi. Jangan sampai bangsa ini dicap sebagai bangsa pengingkar nikmat Tuhan karena tidak mampu mengelola berkah panas bumi. Terobosan bernas dan jitu mutlak dibutuhkan sehingga harta karun panas bumi menjadi berkah bagi warga Indonesia bukan malah jadi kutukan. Semoga!

ADVERTISEMENT
Translate »