Menggenjot Devisa Pariwisata

KEMAJUAN apa yang telah dicapai pemerintah dari sektor pariwisata dalam empat tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla? Pertanyaan itu layak kita ajukan karena Presiden Joko Widodo pada awal pemerintahannya memberikan janji indah tentang perekonomian dari sektor Pariwisata. Ketika itu, disebutkan bahwa pariwisata akan menjadi sumber pemasukan negara atau sumber devisa terbesar menggantikan sektor migas, pangan atau produk unggulan lainnya.

Keputusan pemerintah menjadikan pariwisata sebagai leading sector atau sektor unggulan Indonesia di masa depan dinilai sangat tepat. Karena sektor pariwisata merupakan industri yang sustainable, paling menyentuh ke level bawah  masyarakat dan performanya tiap tahun terus  menanjak.  KUnjungan wisatawan mancanegara langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama di daerah-daerah wisata. Belum lagi sektor usaha lainnya seperti transportasi, hotel dan lain sebagainya.

Sejumlah negara di dunia sangat menikmati pendapatan atau perolehan devisa dari sektor Pariwisata tersebut. Tahun 2017 lalu misalnya setidaknya 1,32 miliar orang melakukan perjalanan wisata.  Negara Amerika dan Eropa menjadi negara favorit para wisatawan seperti Prancis (86,9 juta wisatawan), Spanyol (81,8 juta wisatawan), Meksiko (39,3 juta wisatawan), Amerika Serikat (75,9 juta wisatawan), China (60,7 juta wisatawan), Italia (58,3 juta wisatawan), Inggris (37,7 juta wisatawan) dan lainnya.

Indonesia sendiri pada tahun 2017 dikunjungi 15 juta wisatawan dan tahun 2018 ini ditargetkan 17 juta wisatawan. Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam berbagai kesempatan dengan peuh optimistis menjelaskan tentang target devisa dari sektor pariwisata mencapai Rp223 triliun pada 2018 dari posisi Rp200 triliun pada tahun 2017 lalu. Sedangkan tahun 2019 pemerintah menargetkan sebanyak 20 juta wisatawan.

Dari data yang  tersebut pariwisata Indonesia ke depan memang sangat menjanjikan. Angka pertumbuhan wisatawan mancanegara Indonesia pada 2017 juga lebih baik dibandingkan dengan Thailand, Singapura dan Malaysia. Tak hanya itu, pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan asing di Indonesia lebih tinggi bila dibandingkan dengan regional Asia Tenggara 7% dan dunia sebesar 6,4%.

Dari pertumbuhan wisatawan itu diharapkan akan mendongkrak perolehan devisa secara signifikan.  Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kontribusi sektor pariwisata terus menunjukkan pertumbuhan. Pada tahun 2013 tercatat mencapai 602 juta dollar AS atau berkontribusi sebesar 1,45 persen dari total investasi nasional. Sementara itu,  kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2018 akan mencapai 5,25% dari posisi 5% pada tahun 2017 lalu.

Atas dasar itu pula kita menilai sangat realistis jika pemerintah dengan penuh optimistis bahwa tahun 2019 sektor pariwisata mampu menjadi penghasil devisa nomor satu. Kementerian Pariwisata juga sangat gencar membuat promosi go digital, menyelenggarakan event di dalam dan luar negeri untuk mensosialisasikan obyek wisata Indonesia, termasuk promosi gencar 10 destinasi wisata nasional atau dikenal dengan Bali Baru.

Namun yang menjadi catatan bahwa tahun 2019 juga sekaligus menjadi tahun tantangan bagi sektor Pariwisata Indonesia. Karena tahun 2019 merupakan tahun politik dimana akan diselenggarakannya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Faktor keamanan ini sangat sensitive bagi para wisatawan asing. Kalau nilai tukar rupiah anjlok, justru bisa mendongkrak kunjungan wisatawan karena harga-harga dalam negeri menjadi lebih murah. Sebaliknya, jika masalah keamanan dalam negeri terganggu, maka semua program menjadikan sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa terbesar 2019 dipastikan buyar. (Krisman Kaban)

BeritaTerkait Lainnya

Edisi Terakhir Portonews

LEBIH MUDAH DENGAN APLIKASI PORTONEWS :

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Translate »