Mari Bijak Hadapi Mudik Lebaran

 

 

Tidak dilarangnya perjalanan mudik Lebaran 2021 oleh pemerintah, menyisakan persoalan pelik. Di satu sisi, pemerintah menginginkan ada pergerakan dan distribusi ekonomi melalui aktivitas mudik sehingga menggerakkan roda ekonomi daerah. Namun di lain pihak, ‘hantu’ Coronavirus disease 2019 (Covid-19) masih jadi ancaman serius.

Ini dilema pemerintah. Mendorong pertumbuhan ekonomi atau membiarkan warga terperangkap kerumunan sehingga meluaskan sebaran Covid-19. Semua pilihan tersebut tentu mengandung resiko.

Memilih penyelamatan ekonomi (tidak melarang mudik), risiko jumlah warga terpapar Covid-19 melejit.

Disinyalir Presiden Jokowi, pada masa liburan Nataru 2020-2021, Imlek dan sebelumnya, dimana pemerintah tidak melarang mudik, ternyata melonjakkan penderita Covid-19 hingga 40 persen.

Sebagai catatan, kasus Covid-19 di Tanah Air masih mengalami peningkatan, baik jumlah kasus, sembuh, maupun yang meninggal. Hingga Senin (22/3/2021) pukul 05.30 WIB, kasus positif Covid-19 berjumlah total 1.460.184.

Untuk kasus sembuh ada penambahan 6.065 orang, sehingga totalnya menjadi 1.290.790 orang. Sementara, pasien yang meninggal juga bertambah 103 orang. Jadi jumlah pasien yang meninggal menjadi 39.550 orang.

Namun bila melarang mudik, maka pergerakan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang bisa menopang peningkatan ekonomi nasional akan minim. Risiko pilihan ini pun ditanggung pemerintah. Jadi, apa pun pilihannya, pemerintah yang paling bertanggungjawab.

Hal ini bukan berarti tanggungjawab masyarakat dapat dinihilkan. Masyarakat pun sejatinya lebih bijak menyikapi keputusan pemerintah yang membolehkan mudik.

Kebijakan Pemerintah yang tidak melarang mudik juga diharapkan tidak diikuti kebijakan yang justru mengampanyekan mudik gratis. Termasuk mudik gratis oleh swasta.

Bila hal ini dilakukan maka sama menabrak program pengendalian Covid-19 yang dikampanyekan sendiri Pemerintah. Jadi, pemerintah dan masyarakat dituntut bijak dan rasional hadapi mudik di tengah pandemi. 

 

Edisi Terakhir Portonews

LEBIH MUDAH DENGAN APLIKASI PORTONEWS :

ADVERTISEMENT
Translate »