Kenapa Pembangunan Kilang Bukan Prioritas

KENAPA Indonesia tidak membangun kilang minyak dengan kapasitas produksi yang besar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri yang terus meningkat? Paling tidak Indonesia tidak perlu tergantung terlalu banyak  BBM impor? Ada banyak pertanyaan dari orang awam hingga kaum intelektual seputar pemenuhan BBM di dalam negeri.

Bahan bakar minyak adalah kebutuhan strategis sehingga penangannya tidak bisa dengan cara-cara biasa seperti yang dilakukan selama beberapa dekade ini. Wajar menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat, kenapa hampir semua rezim pemerintahan berusaha mempertahankan kebijakan impor BBM. Padahal, harga BBM selalu berfluktuasi, sehingga setiap perubahan harga, terutama kenaikan selalu menimbulkan kerugian.

Beruntung memang beberapa waktu terakhir harga BBM tidak naik, sebaliknya memang ada tren penuruanan. Ditambah lagi, kebijakan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang membubarkan Petral—instansi yang selama ini menangani impor BBM yang berkedudukan di Singapura—memberikan dampak positif bagi negara. Banyak keuntungan yang diperolah dari pembubaran Petral. Kabarnya, pemerintah menikmati penghematan dari anggaran impor BBM hingga ratusan miliar per hari.

Dapatkan Majalah PORTONEWS versi digital

Bisa dibayangkan bahwa impor BBM di dalam negeri yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kendaraan bermotor. Berdasarkan data, impor BBM dalam lima tahun terakhir rata-rata di atas 100-130 juta kiloliter per tahun. Dari sisi bisnis tentu sangat menggiurkan, sehingga pasti ada upaya dari pihak tertentu agar rencana pemerintah membangun kilang minyak itu diurungkan. Paling tidak, hingga sekarang belum ada sebuah kemajuan signifikan dari pemerintah untuk membangun kilang minyak tersebut.

Padahal, seharusnya dengan kebutuhan bahan bakar yang begitu besar, pemerintah serius membangun, temasuk  mendorong pihak swasta agar dibangun kilang minyak dalam negeri, sehingga kebutuhan impor bisa ditekan. Dengan membangun kilang pengolahan minyak di dalam negeri, maka banyak manfaat yang bisa dipetik pemerintah. Selain menyerap banyak tenaga kerja, efisiensi impor minyak, juga tidak kalah penting adalah membantu meredam kemungkinan terjadinya kelangkaan BBM di dalam negeri.

Pertanyaannya kenapa pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla juga tidak ngotot membangun kilang minyak, pasca dibubarkannya Petral? Benarkah membangun kilang minyak tidak menguntungkan karena investasi mahal sehingga tidak menarik bagi investor swasta maupun asing? Ataukah ada pihak-pihak berkepentingan yng tetap menghambat sehingga kue impor BBM itu bisa terus dinikmati, meski tidak sebesar pada masa dilakukan Petral? Karena bagaimanapun impor BBM merupakan bisnis tambang uang bagi pengusaha yang dekat dengan kekuasan, bagi politisi maupun pejabat di lingkungan Kementerian ESDM selama ini.

Suka tidak suka, upaya pembangunan kilang minyak itu sudah lama digulirkan oleh Pertamina, tetapi konon tidak mendapat persetujuan dari pemerintah maupun dewan perwakilan rakyat. Intinya hanya sebatas pembahasan saja dan berakhir tanpa ada sebuah keputusan. Nah, wajar kalau kecurigaan  bahwa impor BBM itu memang sengaja dibiarkan agar pihak-pihak tertentu tetap bisa menikmati dari permainan harga BBM impor tersebut.

Translate »