Hilirisasi Batu bara

Pemerintah mulai meningkatkan nilai tambah dari bisnis batu bara. Terlihat dari pengembangan gasifikasi batu bara dan pencairan batu bara, Coal Gasification dan Coal Liquefaction.

Namun yang kelihatan progresnya, program gasifikasi batu bara. Sedang Coal Liquefaction, walau potensinya ada tetapi belum dilirik. Apalagi untuk dikembangkan.

Kendati telah mulai dikembangkan, gasifikasi batu bara bukan tanpa kritikan. Proyek gasifikasi yang mengubah batu bara menjadi dimethyl ether (DME) ini diklaim tidak cocok sebagai bahan bakar pengganti LPG (Liquefied Petroleum Gas). Bahkan dianggap tidak ramah lingkungan dan tidak selaras dengan kampanye global: menanggulangi perubahan iklim.

Kritikan lainnya, gasifikasi batu bara hingga kini belum ekonomis. Pasalnya, pengembangan bisnis ini membutuhkan beberapa komponen pendukung. Misalnya, dukungan regulasi, insentif fiskal dan non fiskal dari pemerintah, harga jual, offtaker/pembeli dan teknologi. Selain itu, ada pula yang meragukan kesiapan pengguna akhir dari olahan batubara tersebut.

Melihat kondisi riil saat ini, tidak heran bila hilirisasi batu bara, khususnya gasifikasi dan pencairan batu bara secara bisnis belum disebut ekonomis. Kalau ekonomis tentu sudah banyak perusahaan masuk ke bisnis ini.

Memang ada perusahaan yang sudah mengembangkan gasifikasi batu bara. Tetapi secara umum, masih melakukan kajian keekonomiannya. Walaupun demikian, bukan berarti bisnis gasifikasi dan pencairan batu bara tidak bisa ekonomis. Bisa ekonomis tetapi harus melalui beberapa persyaratan dan persiapan yang panjang.

Memang di Cina dan Afrika Selatan, Coal Gasification dan Coal Liquefaction berkembang pesat. Namun untuk menyandingkan dan membandingkan Indonesia dengan kedua negara tersebut rasanya tidak adil. Cina sejak 40 tahun silam meneliti gasifikasi dan pencairan batu bara. Jadi, masuk akal bila negeri Tirai Bambu itu sukses mengembangkannya.

Tetapi saat ini Cina perlahan-lahan meninggalkan energi berbasis batu bara dan beralih ke Energi Terbarukan (ET). Karena ET energi masa depan dunia.

Indonesia selayaknya menjadikan ET sebagai pengganti energi berbasis batu bara. Misalnya, mengembangkan hidrogen, gas yang berasal dari biomassa. Bukan menjadikan batu bara sebagai komoditi utama pengembangan hilirisasi energi. 

ADVERTISEMENT

LEBIH MUDAH DENGAN APLIKASI PORTONEWS :

Edisi Terakhir Portonews
Translate »