Green Building, Perlawanan Terhadap Perubahan Iklim

Perubahan iklim itu nyata di depan mata, pelan tapi pasti dirasakan dampaknya. Contoh, siklus musim penghujan dan kemarau tidak lagi beraturan. Atau, kendati musim hujan, tetapi pagi hingga siang cuaca sangat terik.

Dampak lain dari perubahan iklim yang bisa kita lihat, adalah kenaikan permukaan air laut dan gelombang panas yang intensif.

Tanda-tanda alam tersebut telah diprediksi para ilmuwan sejak lama.

Tidak heran bila perubahan iklim menjadi masalah global. Semua negara merasakan imbas dari perubahan iklim.

Dari keprihatinan tersebut muncul gagasan Konferensi Perubahan Iklim PBB di Paris (The Paris Agreement), yang diadakan pada 12 Desember 2015.

Tujuan konferensi, mendorong negara-negara agar lebih responsif dan mengambil langkah untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 2 derajat celcius.

Bahkan menekan sampai 1,5 derajat celcius. Substansi kesepakatan Paris, menjadikan perubahan iklim sebagai masalah bersama.

Sejatinya dicarikan solusi bersama. Termasuk Indonesia.

Untuk kasus Indonesia, pemerintah sangat concern untuk turut berkontribusi mengurangi dampak perubahan iklim.

Peraturan perundang-undangan, yang telah disahkan, diantaranya Undang – Undang Nomor 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa–Bangsa mengenai Perubahan Iklim).

Disamping itu, ada kebijakan efisiensi energi, penerapan insentif dan disinsentif. Contohnya Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 38/2012 tentang Bangunan Gedung Hijau, serta inisiatif Jakarta Green Building oleh Pemerintah DKI Jakarta.

Green building ini boleh jadi yang disebut sebagai vertical forest atau hutan vertikal. Hutan vertikal adalah apartemen yang dinding luarnya ditanami berbagai tanaman.

Ide ini dicetuskan oleh seorang arsitek asal Italia, Stefano Boeri. Menurutnya vertical forest ini bisa menjadi satu upaya untuk melawan perubahan iklim.

Selain berkontribusi untuk lingkungan, proyek ini bisa membantu mengatasi urbanisasi.

Hutan vertikal juga bisa meningkatkan keanekaragaman hayati. Terlebih, tanaman yang ada di hutan vertikal dapat membantu menyerap karbon dioksida dan debu, memproduksi oksigen dan berperan sebagai pelindung sinar matahari.

Hingga kini, hutan vertikal sudah ada di Italia, Cina dan Belanda.

Inilah a win win solution, tidak menghilangkan industri (semen dan baja) sebagai penyangga pembangunan tetapi dapat mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

PORTONEWS EDISI CETAK JANUARI 2021

ADVERTISEMENT
Translate »