Geliat Hulu Migas di Tengah Resesi

Inflasi global yang berpotensi menyebabkan resesi bakal melanda. Tidak terelakan. Ia merembet dan berimbas ke semua lini industri. Tidak terkecuali sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Pasalnya, rantai nilai atau value chain makin tinggi sehingga berpengaruh pada aktivitas hulu migas.

Walaupun demikian, posisi Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam, seperti migas masih berkontribusi signifikan pada APBN.

Berdasarkan data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) hingga Juni 2022 penerimaan negara dari sektor hulu migas menembus angka USd 9,7 miliar atau setara dengan Rp 140 triliun. Nilai tersebut mencapai 97,3 persen dari target penerimaan negara pada APBN 2022 yang ditetapkan sebesar USD 9,95 miliar.

Sebelumnya, pada triwulan I tahun 2022, penerimaan negara hulu migas telah mencapai USD 4,36 miliar atau setara dengan Rp 62 triliun. Jumlah tersebut mencapai 44 persen dari target penerimaan negara pada APBN 2022 yang sebesar USD 9,95 miliar.

Di sisi lain, semangat dan upaya untuk terus menggenjot investasi di tengah ancaman resesi, terus dipacu. Apalagi peringatan keras dari Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin di acara Forum Kapasitas Nasional II 2022 pada 27-28/7/2022 yang diselenggarakan oleh SKK Migas di Jakarta, yang mewanti-wanti agar tidak perlu ragu dan takut untuk memangkas regulasi yang menyulitkan calon investor masuk dan menanamkan modalnya di industri strategis ini.

Peringatan keras Wapres bukan tanpa alasan. Karena investasi hulu migas turun drastis sejak 1998. Pada 2010 investasi mencapai USD 12, 7 miliar, dengan porsi eksplorasi mencapai USD 2,3 miliar. Pada 2016 investasi mencapai USD 11,59 miliar dengan bagian investasi untuk ekplorasi hanya USD 0,92 miliar. Investasi turun menjadi USD 10,47 miliar dolar tahun 2020 dengan porsi untuk eksplorasi USD 0,44 miliar.

Menghadapi tantangan resesi besar, Rencana Strategis Migas 2030 termaktub visi, produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas bumi 12 miliar kaki kubik per hari di tahun 2030. Tentu saja target disertai studi mendetail, mencermati potensi penemuan cadangan-cadangan baru, reaktivasi lapangan lapangan lama, penggunaan teknologi enhance oil recovery (EOR), proses digitalisasi, koordinasi yang baik antar lembaga, serta kolaborasi para pemangku kepentingan. Dengan perangkat dan strategi jitu tersebut, diharapkan ancaman resesi global bisa dihadapi sehingga aktivitas hulu migas pun terus bergeliat dan terdongkrak. Semoga! 

LEBIH MUDAH DENGAN APLIKASI PORTONEWS :

Translate »
%d blogger menyukai ini: